h1

Pencinta Alam Terjebak di G Slamet

Januari 2, 2008

>Senin, 12 Februari 2001

Pencinta Alam Terjebak di G Slamet
* Seorang Tewas, 17 Belum Diketahui Nasibnya

Purwokerto, Kompas Seorang pendaki anggota Mahasiswa Pencinta Alam Gadjah Mada (Mapa Gama), Yogyakarta, dilaporkan tewas, empat orang dalam keadaan kritis, dan 13 orang lainnya hingga kini belum diketahui keadaannya. Hujan lebat yang disertai angin keras dan suhu udara yang sangat dingin membuat upaya evakuasi korban yang tewas dan dalam keadaan kritis hingga hari Minggu (11/2) belum bisa dilakukan.

Dari 25 pendaki yang terbagi dalam empat grup yang berangkat secara bergelombang mulai 3-6 Februari lalu, hanya tujuh yang berhasil turun dalam keadaan selamat. Lima pendaki adalah anggota Kelompok Baturaden I yang berangkat 3 Februari, yakni Wiwid (pendamping), Ndaru, Eri, Toni, dan Melinda. Sementara dua pendaki lainnya, dari Kelompok Kaliwadas I yang berangkat 4 Februari, yakni Bagus Gentur dan Dewi. Sedangkan yang tewas bernama Masruki, yang bertindak sebagai pendamping Kelompok Kaliwadas I.

Gentur dan Dewi turun hari Jumat lalu dan sempat dirawat di rumah mantan Kepala Kampung Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Menurut Gentur, empat rekannya dari Kelompok Kaliwadas I, yakni Iis, Dodo, Bagas, dan Fauzan, yang berada dalam keadaan kritis terpaksa ditinggal di puncak gunung. Sementara Masruki saat ditinggal sudah meninggal.

Menurut Gentur, saat ia turun untuk meminta bantuan, keempat rekannya dalam keadaan kritis dan tercerai-berai di beberapa lokasi di dekat jurang di daerah Gunung Malang atau Pos V Tugu Surono pada ketinggian sekitar 3.100 meter. Mereka sudah tidak lagi mempunyai logistik (bekal) yang memadai kecuali bumbu pecel dan ikan asin.

Gunung Slamet, yang termasuk gunung berapi yang masih aktif, terletak di perbatasan eks Karesidenan Banyumas dan Pekalongan. Gunung yang tingginya 3.428 meter dan memiliki kawah yang luasnya 12,5 hektar-sebagian terdiri dari lautan pasir-merupakan gunung yang dijadikan ajang pendakian masyarakat, termasuk mahasiswa.

Dalam keadaan normal, suhu udara di puncak sekitar empat derajat Celsius. Namun, pada musim hujan bisa di bawah empat derajat. Di puncak sering turun hujan lebat yang disertai badai besar seperti terjadi saat ini. Musibah terakhir terjadi awal Februari 1993, dan menelan korban sembilan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi.

Calon anggota

Menurut Heny, mahasiswi Jurusan Pemerintahan Fisipol UGM, salah seorang anggota Mapa Gama, para pendaki sedang melaksanakan kegiatan tradisi wajib “lintas gunung” sebelum dilantik menjadi anggota muda Mapa Gama. Jumlah personel yang mendaki seluruhnya 25 orang, terbagi dalam empat kelompok. (Kompas, 10/2)

Kemarin, puluhan personel pencinta alam dari Mapa Gama, Wikupala (Universitas Wijaya Kusuma), dan Unit Pandu Lingkungan Universitas Soedirman, Purwokerto, serta masyarakat mencoba menyisir gunung dari rute pendakian Kaliwadas-Pemalang dan Baturaden-Bambangan, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Kepala Kepolisian Wilayah (Polwil) Banyumas Komisaris Besar Carel Risakotta menyesalkan sikap Mapa Gama yang sepertinya sangat tertutup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: