h1

Pencinta Alam bukan Tarzan

Januari 2, 2008

DALAM hitungan hari, tiga calon anggota perhimpunan pencinta alam meninggal dunia. Diduga, mereka meninggal akibat keikutsertaannya dalam program pendidikan dasar yang diselenggarakan perhimpunan pencinta alam. Benarkah demikian? Belum ada yang berani berkomentar, bahkan kepolisian pun masih menyelidikinya. Namun, tiga kasus serupa yang terjadi pada perhimpunan pencinta alam di tiga perguruan tinggi itu bisa mengindikasikan “sesuatu”.

Bagaimanapun, kejadian-kejadian seperti itu tidak hanya merugikan pihak korban, tetapi juga kelangsungan hidup kegiatan/olah raga di alam bebas. Tidak mustahil orang-orang akan takut untuk mengikuti kegiatan di alam bebas. Bila itu terjadi, imbasnya juga akan menerpa pada kehidupan masyarakat dan lingkungan.

“Bayangkan bila orang-orang sudah tak mau lagi melakukan kegiatan di alam bebas, kemudian tidak peduli lagi dengan alam dan lingkungan, apa yang akan terjadi?” kata dua tokoh senior Perhimpunan Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba Wanadri, Ir. Iwan Abdurachman (Singawalang/1964) dan Prasidi Widyasarjana (Tapak Rimba/1971). Kedua tokoh yang ditemui di sekretariat Wanadri Jln. Aceh 155 Bandung, Rabu (3/3) malam, memang mengkhawatirkan adanya trauma pada masyarakat untuk mengikuti kegiatan di alam bebas.

“Tanpa mengurangi rasa prihatin dan belasungkawa kami kepada keluarga korban, kejadian-kejadian seperti itu tidak seharusnya membuat orang menjadi takut. Saya contohkan, ketika pesawat ulang-alik AS meledak di udara yang disaksikan langsung keluarga awak pesawat, AS dan rakyatnya tidak langsung jera. Hari ini meledak, besoknya mereka membuat lagi pesawat ulang-alik,” kata Iwan Abdurachman yang akrab dengan panggilan Abah Iwan atau Abah Ompong.

Namun, katanya menambahkan, semangat untuk melanjutkan petualangan ke luar angkasa itu diikuti dengan pembelajaran dan penelitian, sehingga kasus yang sama tidak akan terulang lagi. Demikian pula pada kejadian-kejadian meninggalnya para calon anggota perhimpunan pencinta alam, jangan membuat gairah berkegiatan di alam bebas itu berkurang, apalagi sampai padam. Justru, kejadian-kejadian tersebut harus membuat para penggemar kegiatan di alam bebas lebih hati-hati, tidak ceroboh. “Kegiatan di alam bebas itu berisiko. Nah, tinggal bagaimana kita mengeliminasi risiko itu,” kata Prasidi yang biasa dipanggil Mas Pras.

Lalu, bagaimana caranya mengeliminasi risiko itu? “Pencinta alam itu bukan Tarzan, yang berada di leuweung tanpa bekal dan perlengkapan. Oleh karena itu, pencinta alam harus dibekali ilmu dan keterampilan untuk hidup di alam bebas,” jelas Abah Iwan. Pembekalan ilmu dan keterampilan itulah yang biasa disebut dengan pendidikan dasar.

Kekerasan?

Selama ini, muncul citra pada masyarakat bahwa dalam pendidikan dasar pencinta alam sering terjadi kekerasan fisik, kalau tidak bisa disebutkan sebagai penganiayaan. Apakah citra itu sesuai dengan kenyataan? Apakah kekerasan fisik itu yang menyebabkan kematian peserta? Abah Iwan, Mas Pras, serta anggota Wanadri yang hadir di sekretariat saat itu langsung membantahnya. “Dalam tata tertib Wanadri, menempeleng (menampar – red.) pun dilarang bila tidak dalam kondisi yang mengharuskannya. Bahkan, orang yang berhak menempeleng pun tidak sembarangan,” kata Bah Iwan.

Mas Pras menambahkan, dalam pendidikan dasar di Wanadri penamparan dilakukan hanya untuk menyadarkan siswa atau peserta pendidikan yang pingsan atau mengalami kepanikan. “Kegiatan di alam bebas itu keras, jangan ditambah lagi oleh kekerasan fisik. Kami berpegang pada pesan salah seorang pelindung kami, Pak Sarwo Edhie, yang menjelaskan bahwa pendidikan itu dimaksudkan untuk membangun human skill. Kekerasan bisa jadi bukannya membangun, melainkan menjatuhkan human skill peserta. Kalau sudah down, pendidikan akan percuma karena tidak menghasilkan anggota yang sesuai dengan harapan,” kata Mas Pras menjelaskan.

Sebenarnya, keras dalam pendidikan dasar bukan yang berkaitan dengan kontak fisik dan sebagainya, yang bisa saja menjurus pada tindak pidana. Keras dalam pendidikan dasar adalah prosedur dan program. Hal itu disesuaikan dengan sifat kegiatan alam bebas yang memang keras.

Empat anggota Wanadri lainnya; M. Heru N. (Kabut Lembah/1999), Galih Donikara (Topan Rawa/1989), Agus Nugraha (Elang Rimba/1983), dan Dedi Chiko (Tapak Lembah/1993) menjelaskan bagaimana kerasnya Wanadri menjalankan prosedur dan program pendidikan dasar. Setidaknya, tiga tahap khusus dilaksanakan Wanadri sebelum melakukan pendidikan dasar di lapangan.

Tahap pertama adalah tes yang dimaksudkan untuk menjaring calon peserta. Tes yang dilakukan adalah tes kesehatan (general check up) bekerja sama dengan Kesdam, psikotes (Psikoad), physical fitness (kebugaran fisik), dan tes renang. “Rekomendasi dari tim penguji itu mutlak. Bila mereka mengatakan tidak, kami tidak akan menyertakan calon peserta itu,” kata mereka.

Tahap kedua adalah masa prakondisi. Pada tahap kedua, para calon peserta yang sudah lolos tes mendapat pelatihan fisik selama dua bulan. “Walaupun sudah menjalani tes, kami memberi latihan fisik agar kondisi mereka bisa fit saat benar-benar menjalani pendidikan di lapangan. Soalnya, kondisi sosial kita kan sudah terlalu enak dan bisa membuat kita manja. Kendaraan sudah banyak, sehingga orang jarang berjalan kaki. Bila tidak dibiasakan dengan latihan, bisa-bisa saat di lapangan kondisi fisik mereka menurun,” kata Mas Pras menjelaskan.

Tahap ketiga adalah program pemberian teori dan teknik hidup di alam bebas. “Setelah semua tahap itu dilampaui, barulah pendidikan di lapangan dilaksanakan. Program di lapangan pun dilakukan secara gradual (bertahap) sesuai dengan target yang ingin kita capai,” kata Mas Pras.

Program pendidikan di lapangan disusun sedemikian rupa, misalnya dari kegiatan yang masih melibatkan kelompok hingga yang menekankan kemandirian. Misalnya, dari tidur berkelompok di barak, kemudian ke bivak (tenda) kelompok, hingga solo bivak. Pelatihan dilakukan dengan tingkat-tingkat bahaya tertentu, seperti objective danger, subjective danger, appearance danger, hingga real danger. “Pokoknya, peserta tidak langsung dihadapkan pada kondisi yang benar-benar bahaya,” kata Mas Pras lagi.

Nah, paparan-paparan dari anggota Wanadri itu mudah-mudahan menjelaskan bahwa kegiatan di alam bebas memang tidak mudah. Namun, itu tidak berarti bahwa kegiatan di alam bebas mustahil dilaksanakan. Bukankah puncak Everest pun sudah dicapai manusia sejak 50 tahun lalu? Namun, satu hal yang pasti — seperti yang dikatakan Bah Iwan — pencinta alam bukanlah Tarzan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: