Archive for the ‘Pencinta Alam’ Category

h1

Persatuan Pencinta Alam Malaysia

Januari 2, 2008

Persatuan Pencinta Alam Malaysia (Inggeris: Malaysian Nature Society; MNS) adalah satu badan bukan kerajaan yang tidak berasaskan keuntungan bagi pencinta alam sekitar di Malaysia. Persatuan ini telah ditubuhkan sebagai Persatuan Pencinta Alam Malaya (Malayan Nature Society) pada tahun 1940. MNS berpusat di Bukit Persekutuan di Kuala Lumpur.[1] Cawangan Singapura persatuan ini telah menamakan dirinya semula sebagai Pencinta Alam (Singapura) ataupun Nature Society (Singapore) pada tahun 1991.

MNS adalah satu badan alam sekitar yang bergiat cergas. Badan ini mengurus Kuala Selangor Nature Park, Boh Tea Estate chalets dan rancangan-rancangan pembelajaran di Rimba Ilmu di Universiti Malaya dan di Forest Research Institute of Malaysia (FRIM).[2]

Badan alam sekitar ini telah berjaya memujuk pihak berkuasa untuk mewujudkan Endau Rompin National Park. Usaha untuk mengazetkan kawasan tersebut tercetus apabila MNS melakukan satu ekspedisi saintifik ke Endau dan Rompin pada tahun 1985 dan 1986.[3] Baru-baru ini, MNS sedang menjalani satu kempen untuk mengazetkan kawasan Belum-Temengor sebagai kawasan terpelihara.

h1

Pencinta Alam bukan Tarzan

Januari 2, 2008

DALAM hitungan hari, tiga calon anggota perhimpunan pencinta alam meninggal dunia. Diduga, mereka meninggal akibat keikutsertaannya dalam program pendidikan dasar yang diselenggarakan perhimpunan pencinta alam. Benarkah demikian? Belum ada yang berani berkomentar, bahkan kepolisian pun masih menyelidikinya. Namun, tiga kasus serupa yang terjadi pada perhimpunan pencinta alam di tiga perguruan tinggi itu bisa mengindikasikan “sesuatu”.

Bagaimanapun, kejadian-kejadian seperti itu tidak hanya merugikan pihak korban, tetapi juga kelangsungan hidup kegiatan/olah raga di alam bebas. Tidak mustahil orang-orang akan takut untuk mengikuti kegiatan di alam bebas. Bila itu terjadi, imbasnya juga akan menerpa pada kehidupan masyarakat dan lingkungan.

“Bayangkan bila orang-orang sudah tak mau lagi melakukan kegiatan di alam bebas, kemudian tidak peduli lagi dengan alam dan lingkungan, apa yang akan terjadi?” kata dua tokoh senior Perhimpunan Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba Wanadri, Ir. Iwan Abdurachman (Singawalang/1964) dan Prasidi Widyasarjana (Tapak Rimba/1971). Kedua tokoh yang ditemui di sekretariat Wanadri Jln. Aceh 155 Bandung, Rabu (3/3) malam, memang mengkhawatirkan adanya trauma pada masyarakat untuk mengikuti kegiatan di alam bebas.

“Tanpa mengurangi rasa prihatin dan belasungkawa kami kepada keluarga korban, kejadian-kejadian seperti itu tidak seharusnya membuat orang menjadi takut. Saya contohkan, ketika pesawat ulang-alik AS meledak di udara yang disaksikan langsung keluarga awak pesawat, AS dan rakyatnya tidak langsung jera. Hari ini meledak, besoknya mereka membuat lagi pesawat ulang-alik,” kata Iwan Abdurachman yang akrab dengan panggilan Abah Iwan atau Abah Ompong.

Namun, katanya menambahkan, semangat untuk melanjutkan petualangan ke luar angkasa itu diikuti dengan pembelajaran dan penelitian, sehingga kasus yang sama tidak akan terulang lagi. Demikian pula pada kejadian-kejadian meninggalnya para calon anggota perhimpunan pencinta alam, jangan membuat gairah berkegiatan di alam bebas itu berkurang, apalagi sampai padam. Justru, kejadian-kejadian tersebut harus membuat para penggemar kegiatan di alam bebas lebih hati-hati, tidak ceroboh. “Kegiatan di alam bebas itu berisiko. Nah, tinggal bagaimana kita mengeliminasi risiko itu,” kata Prasidi yang biasa dipanggil Mas Pras.

Lalu, bagaimana caranya mengeliminasi risiko itu? “Pencinta alam itu bukan Tarzan, yang berada di leuweung tanpa bekal dan perlengkapan. Oleh karena itu, pencinta alam harus dibekali ilmu dan keterampilan untuk hidup di alam bebas,” jelas Abah Iwan. Pembekalan ilmu dan keterampilan itulah yang biasa disebut dengan pendidikan dasar.

Kekerasan?

Selama ini, muncul citra pada masyarakat bahwa dalam pendidikan dasar pencinta alam sering terjadi kekerasan fisik, kalau tidak bisa disebutkan sebagai penganiayaan. Apakah citra itu sesuai dengan kenyataan? Apakah kekerasan fisik itu yang menyebabkan kematian peserta? Abah Iwan, Mas Pras, serta anggota Wanadri yang hadir di sekretariat saat itu langsung membantahnya. “Dalam tata tertib Wanadri, menempeleng (menampar – red.) pun dilarang bila tidak dalam kondisi yang mengharuskannya. Bahkan, orang yang berhak menempeleng pun tidak sembarangan,” kata Bah Iwan.

Mas Pras menambahkan, dalam pendidikan dasar di Wanadri penamparan dilakukan hanya untuk menyadarkan siswa atau peserta pendidikan yang pingsan atau mengalami kepanikan. “Kegiatan di alam bebas itu keras, jangan ditambah lagi oleh kekerasan fisik. Kami berpegang pada pesan salah seorang pelindung kami, Pak Sarwo Edhie, yang menjelaskan bahwa pendidikan itu dimaksudkan untuk membangun human skill. Kekerasan bisa jadi bukannya membangun, melainkan menjatuhkan human skill peserta. Kalau sudah down, pendidikan akan percuma karena tidak menghasilkan anggota yang sesuai dengan harapan,” kata Mas Pras menjelaskan.

Sebenarnya, keras dalam pendidikan dasar bukan yang berkaitan dengan kontak fisik dan sebagainya, yang bisa saja menjurus pada tindak pidana. Keras dalam pendidikan dasar adalah prosedur dan program. Hal itu disesuaikan dengan sifat kegiatan alam bebas yang memang keras.

Empat anggota Wanadri lainnya; M. Heru N. (Kabut Lembah/1999), Galih Donikara (Topan Rawa/1989), Agus Nugraha (Elang Rimba/1983), dan Dedi Chiko (Tapak Lembah/1993) menjelaskan bagaimana kerasnya Wanadri menjalankan prosedur dan program pendidikan dasar. Setidaknya, tiga tahap khusus dilaksanakan Wanadri sebelum melakukan pendidikan dasar di lapangan.

Tahap pertama adalah tes yang dimaksudkan untuk menjaring calon peserta. Tes yang dilakukan adalah tes kesehatan (general check up) bekerja sama dengan Kesdam, psikotes (Psikoad), physical fitness (kebugaran fisik), dan tes renang. “Rekomendasi dari tim penguji itu mutlak. Bila mereka mengatakan tidak, kami tidak akan menyertakan calon peserta itu,” kata mereka.

Tahap kedua adalah masa prakondisi. Pada tahap kedua, para calon peserta yang sudah lolos tes mendapat pelatihan fisik selama dua bulan. “Walaupun sudah menjalani tes, kami memberi latihan fisik agar kondisi mereka bisa fit saat benar-benar menjalani pendidikan di lapangan. Soalnya, kondisi sosial kita kan sudah terlalu enak dan bisa membuat kita manja. Kendaraan sudah banyak, sehingga orang jarang berjalan kaki. Bila tidak dibiasakan dengan latihan, bisa-bisa saat di lapangan kondisi fisik mereka menurun,” kata Mas Pras menjelaskan.

Tahap ketiga adalah program pemberian teori dan teknik hidup di alam bebas. “Setelah semua tahap itu dilampaui, barulah pendidikan di lapangan dilaksanakan. Program di lapangan pun dilakukan secara gradual (bertahap) sesuai dengan target yang ingin kita capai,” kata Mas Pras.

Program pendidikan di lapangan disusun sedemikian rupa, misalnya dari kegiatan yang masih melibatkan kelompok hingga yang menekankan kemandirian. Misalnya, dari tidur berkelompok di barak, kemudian ke bivak (tenda) kelompok, hingga solo bivak. Pelatihan dilakukan dengan tingkat-tingkat bahaya tertentu, seperti objective danger, subjective danger, appearance danger, hingga real danger. “Pokoknya, peserta tidak langsung dihadapkan pada kondisi yang benar-benar bahaya,” kata Mas Pras lagi.

Nah, paparan-paparan dari anggota Wanadri itu mudah-mudahan menjelaskan bahwa kegiatan di alam bebas memang tidak mudah. Namun, itu tidak berarti bahwa kegiatan di alam bebas mustahil dilaksanakan. Bukankah puncak Everest pun sudah dicapai manusia sejak 50 tahun lalu? Namun, satu hal yang pasti — seperti yang dikatakan Bah Iwan — pencinta alam bukanlah Tarzan!

h1

PENCINTA ALAM GADUNGAN

Januari 2, 2008

Setiap kampus pasti memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Salah satunya UKM “Pencinta Alam”. UKM “Pencinta Alam” biasanya disesuaikan dengan nama kampus. Ambil contoh, MAPAWIKA (Mahasiswa Pencinta Alam Widya Karya), HIPAWIDHA (Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam Wisnuwardhana). Keduanya di Malang, Jawa Timur. Ada juga UKM “Pencinta Alam” yang tidak menyebut nama perguruan tinggi. Misalnya, IMAPALA (Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam) atau HIMAPALA (Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam).

Sebelum berziarah ke alam bebas (gunung, belantara, padang sabana, sungai), mahasiswa pencinta alam biasanya membangun menara berbentuk tebing di sekitar kampus. Menara dari bahan besi beton, papan, kayu itu dirancang mirip lereng gunung atau tebing sungai. Hampir setiap hari, mereka melatih keterampilan mendaki gunung di menara itu. Mereka menggenjot ketahanan fisik, mental pantang menyerah dan keberanian dalam menghadapi risiko.

Pencinta alam ini umumnya memiliki ciri hampir sama. Berperilaku agak “nyleneh“, rambut gondrong, pakaian “kumal” (acak-acakan), sepatu butut dan jarang membersihkan diri. Pakaian khas mereka (jaket) seringkali dilabeli tulisan: “Sang Penakluk Alam”, “Sang Musafir Abadi”, “Mahasiswa Pemberani,” dll. Konon, tulisan itu bisa menambah semangat kepahlawanan mereka ketika menjelajahi alam bebas.

anton Benarkah mereka sungguh-sungguh mencintai lingkungan? Sebagai mahasiswa, saya sering mengikuti kegiatan mahasiswa pencinta alam. Semula saya berpikir, mahasiswa pencinta alam sungguh mencintai alam. Namun setelah beberapa kali mengikuti kegiatan mereka, pikiran pun berubah 180 o. Ternyata, mereka bukan pencinta alam.

Lingkungan hidup kita tidak hanya dirusak oleh penebang liar dan konglomerat (pengusaha kayu), tapi juga oleh para mahasiswa yang mengaku “pencinta alam” itu. Mereka buang kotoran (berak dan kencing) di sungai, puncak gunung, hutan, dsb. Bahkan sisa makanan berikut bungkusnya, kertas koran dan botol plastik dibiarkan berserakan di tengah hutan atau aliran sungai.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, kalangan “pencinta alam” belum pernah menyelamatkan lingkungan hidup. Sebaliknya, kegiatan mereka justru dapat merusak alam. Sebab, ketika berjalan di tengah hutan, lereng gurung atau pinggir sungai, selalu ada tumbuhan kecil yang diinjak, ditebas dan dipatahkan. Malahan “pencinta alam” ini acapkali membuat api unggun di tengah hutan. Ironisnya lagi, mereka suka berdisko ria mengitari api unggun di kegelapan malam, sehingga memperparah kerusakan lingkungan.

Seandainya mereka sungguh cinta lingkungan, kegiatan utama mereka semestinya bukan mendaki gunung atau mejeng ria di tengah hutan “perawan”. Sebaiknya mereka membersihkan aliran sungai yang kotor, menanam pohon pada lahan-lahan gersang atau ikut membantu pasukan kuning membersihkan sampah di tengah kota.

Beberapa waktu lalu, warga Surabaya tiba-tiba resah gara-gara sampah. Anehnya, tidak seorang pun mahasiswa “pencinta alam” yang peduli terhadap keluhan warga. Mereka malahan pergi ke hutan dan melakukan kegiatan yang justru merusak lingkungan. Padahal hutan asri atau sungai bening tidak perlu kehadiran mereka.

Begitu pula ketika warga Purwokerto tertimbun tanah longsor, tak seorang pun “pencinta alam” terpanggil untuk menanam tanaman pencegah erosi, seperti bambu, lidah gajah, dll. Ternyata, sebutan “mahasiswa pencinta alam” hanya mengecohkan warga kampus. Mereka membentuk UKM “Pencinta Alam” untuk sekadar menghabiskan anggaran kampus.

Pencinta alam beneran semestinya berusaha mempertahankan dan melestarikan lingkungan hidup. Mereka akan berusaha menanam tumbuh-tumbuhan pada lahan-lahan kering, berusaha mengatasi tanah longsor, bahaya banjir, berusaha menyelamatkan flora dan fauna serta menentang perbuatan merusak lingkungan. Usaha-usaha itulah yang seharusnya menjadi fokus perjuangan para pencinta alam. Sehingga mereka tidak dicap “pencinta alam gadungan”.

h1

Pencinta Alam Terjebak di G Slamet

Januari 2, 2008

>Senin, 12 Februari 2001

Pencinta Alam Terjebak di G Slamet
* Seorang Tewas, 17 Belum Diketahui Nasibnya

Purwokerto, Kompas Seorang pendaki anggota Mahasiswa Pencinta Alam Gadjah Mada (Mapa Gama), Yogyakarta, dilaporkan tewas, empat orang dalam keadaan kritis, dan 13 orang lainnya hingga kini belum diketahui keadaannya. Hujan lebat yang disertai angin keras dan suhu udara yang sangat dingin membuat upaya evakuasi korban yang tewas dan dalam keadaan kritis hingga hari Minggu (11/2) belum bisa dilakukan.

Dari 25 pendaki yang terbagi dalam empat grup yang berangkat secara bergelombang mulai 3-6 Februari lalu, hanya tujuh yang berhasil turun dalam keadaan selamat. Lima pendaki adalah anggota Kelompok Baturaden I yang berangkat 3 Februari, yakni Wiwid (pendamping), Ndaru, Eri, Toni, dan Melinda. Sementara dua pendaki lainnya, dari Kelompok Kaliwadas I yang berangkat 4 Februari, yakni Bagus Gentur dan Dewi. Sedangkan yang tewas bernama Masruki, yang bertindak sebagai pendamping Kelompok Kaliwadas I.

Gentur dan Dewi turun hari Jumat lalu dan sempat dirawat di rumah mantan Kepala Kampung Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Menurut Gentur, empat rekannya dari Kelompok Kaliwadas I, yakni Iis, Dodo, Bagas, dan Fauzan, yang berada dalam keadaan kritis terpaksa ditinggal di puncak gunung. Sementara Masruki saat ditinggal sudah meninggal.

Menurut Gentur, saat ia turun untuk meminta bantuan, keempat rekannya dalam keadaan kritis dan tercerai-berai di beberapa lokasi di dekat jurang di daerah Gunung Malang atau Pos V Tugu Surono pada ketinggian sekitar 3.100 meter. Mereka sudah tidak lagi mempunyai logistik (bekal) yang memadai kecuali bumbu pecel dan ikan asin.

Gunung Slamet, yang termasuk gunung berapi yang masih aktif, terletak di perbatasan eks Karesidenan Banyumas dan Pekalongan. Gunung yang tingginya 3.428 meter dan memiliki kawah yang luasnya 12,5 hektar-sebagian terdiri dari lautan pasir-merupakan gunung yang dijadikan ajang pendakian masyarakat, termasuk mahasiswa.

Dalam keadaan normal, suhu udara di puncak sekitar empat derajat Celsius. Namun, pada musim hujan bisa di bawah empat derajat. Di puncak sering turun hujan lebat yang disertai badai besar seperti terjadi saat ini. Musibah terakhir terjadi awal Februari 1993, dan menelan korban sembilan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi.

Calon anggota

Menurut Heny, mahasiswi Jurusan Pemerintahan Fisipol UGM, salah seorang anggota Mapa Gama, para pendaki sedang melaksanakan kegiatan tradisi wajib “lintas gunung” sebelum dilantik menjadi anggota muda Mapa Gama. Jumlah personel yang mendaki seluruhnya 25 orang, terbagi dalam empat kelompok. (Kompas, 10/2)

Kemarin, puluhan personel pencinta alam dari Mapa Gama, Wikupala (Universitas Wijaya Kusuma), dan Unit Pandu Lingkungan Universitas Soedirman, Purwokerto, serta masyarakat mencoba menyisir gunung dari rute pendakian Kaliwadas-Pemalang dan Baturaden-Bambangan, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Kepala Kepolisian Wilayah (Polwil) Banyumas Komisaris Besar Carel Risakotta menyesalkan sikap Mapa Gama yang sepertinya sangat tertutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.